Artikel Pilihan

Home Refinance LoanAda Blog Jelajah Lidah! Lidah, merupakan sebuah "fasilitas" luar biasa dari Sang Maha Pencipta untuk manusia. Beragam cara, ternyata dipakai manusia untuk mengoptimalkan fungsi dari indera perasa tersebut. Blog ini mencoba mengabadikannya...

Baca Lebih lengkap

Martabak mana lagi Martabak sudah dikenal luas sebagai makanan pilihan saat santai di sore hari. Temukan serba serbi martabak yang banyak dijual di sekitar kita, ...

Readmore

Keripik Setan Eksplorasi rasa pedas merupakan sebuah penjelajahan yang maha nikmat. Ada resiko yang harus ditanggung para penikmatnya. Lalu, bagaimana kalau rasa pedas yang luar biasa ditemukan cukup dalam sekantung kecil keripik singkong ??...

Tulisan lengkapnya disini

Tuesday, July 14, 2009

0
Ada Kulit Jeruk di Pecel Madiun

Eksplorasi pedas jejaklidah kali ini mencoba menjamah sisi tradisional negeri seribu pulau ini. Beberapa tulisan tentang menu sarapan pilihan sebagian besar warga Jawa Timur, pecel, akan coba diulas dalam jelajah lidah melalui blog ini. Penjelajahan dimulai dari satu tempat yang yang dikenal sebagai asal muasalnya makanan ini, walaupun dalam prakteknya, sudah banyak "penyimpangan" yang terjadi (makanya baca sampai tuntas dulu agar tahu). Pecel, rasanya tidak akan mudah dilepaskan dari kata madiun. Maka penjelajahan kali ini menuju langsung ke madiun untuk mencari jawaban pasti atas keberadaan pecel madiun ini.

Pecel madiun, menurut Budi Prasetyo, memiliki ciri khas penggunaan turi, kecambah pendek, dan sambel pecel. Selain itu, ciri khas visual yang bisa ditemukan adalah pada cara penyajian yang selalu menggunakan daun pisang, dan cara menuangkan sambel pada racikan nasi dan kulupan. Nasi pecel madiun, mengutamakan kulupan, dan hanya mensyaratkan nasi. "Jadi, pecel madiun akan mudah dikenali dari penyajiannya yang menggunakan daun pisang secara berlebih, nasi yang hanya secukupnya, kulupan lebih banyak, serundeng, kering tempe, cacahan mentimun, sambel pecel, dengan lauk peyek, krupuk puli (cap walet), tempe dan tahu. Adapun kulupannya juga menyisakan hal yang khas, yakni dengan kehadiran daun kemangi. Sementara untuk materi kulupannya, menggunakan kacang panjang, daun singkong, daun pepaya, yang diolah dengan teknik tertentu. Daun singkong dan pepaya direbus secara bersamaan sampai matang, ditiriskan sebentar, kemudian langsung disiram dengan air es, agar warnanya menjadi hijau segar. Untuk menjaga kualitasnya, pak Budi bahkan sampai rela membuat kecambah sendiri, dan juga menyediakan ladang pisang, untuk mengoptimalkan pasokan daun untuk pecelnya.

Sementara pengolahan sambel BP juga menarik untuk disimak. Rupanya dari pemilihan bahan, pak Budi mengutamakan kwalitas. Sehingga tak mengherankan jika kacang harus didatangkan dari Tuban, asem jawa dan daun jeruk dikirim dari madiun, sementara gula merah nya dibeli langsung ke tasikmalaya. Kacang diolah dengan metode sangrai, setelah sebelumnya dipilih kualitas yag terbaiknya. Selanjutnya setelah matang, kacang diuyek agar kulit terpisah dari biji kacang dan terbelah, lantas ditapeni, agar kulit tidak bercampur dengan biji. Selanjutnya, biji kecil yang ada di dalam kacang, dibuang. "Ini bisa membuat rasa sambel menjadi sedikit pait" terang pak budi sambil menunjukkan bagian kacang tersebut kepada jejaklidah. Kacang selanjutnya ditumbuk, dicampur dengan bumbu2, dan ditambah dengan kulit jeruk yang ditumbuk. Yang disebut terakhir inilah yang menjadi ciri khas pembeda sambel pecel madiun dari sambel pecel di daerah lain. Pengusaha pecel tiga generasi ini, mengaku jikalau pasokan kacang tubannya mandheg, dia memilih untuk menghentikan dagangan untuk sementara, sampai pasokan kacang pulih kembali. "Kacang Tuban itu, kecil, tapi menthes mas" jelas pak Budi. Tanpa kacang tuban, hasil sambelnya pasti terasa lain. Berkat kontrol kualitas yang ketat, sambel pecel besutan pak Budi telah merambah benua kangguru, dan beberapa negara di Asia.

Menariknya lagi, untuk menyediakan lauk peyek kacang yang benar-benar khas madiun, didatangkanlah langsung dari madiun, pembuat asli peyek kacang madiun. Kacang yang dipakai masih tetap kacang tuban, namun bedanya, tidak ada perlakuan khas, dimana kacang cukup dibelah menjadi dua, dan dicampurkan ke adonan tepung dan tak lupa, rajangan daun jeruk. Peyek hasil gorengan pun juga tak lepas dari qualiti kontrol. "Dua blek besar peyek pernah saya suruh bagi-bagikan saja, karena rasanya yang tidak pas menurut saya" kenang pak Budi.

Penyaji pecel madiun ternyata tidak selamanya adalah orang madiun. "Orang jogja bisa saja jual pecel" Mana ada pecel jogja, adanya ya pecel madiun. Tapi gestuur dan cara penyajian, sudah membuat kita bisa membedakan ini pecel madiun asli, dan yang itu pecel madiun made ini semarang. Sambel pecel semarang memiliki citarasa kencur yang cukup kuat. Sementara Sambel pecel Jawa Timur, cenderung menguatkan daun jeruk nipis. Disinilah "penyimpangan" itu terjadi, ketika tagline yang diusung adalah pecel madiun, tapi karena yang menjualnya bukanlah orang madiun, maka terjadilah. Pecel madiun disajikan dengan daun pisang yang berlimpah, sementara nasinya hanya nyempil di pojok, dengan kulupan yang lebih banyak, kemudian disiram dengan sambel kacang secara nyepret.

Disarikan dari hasil perbincangan dengan Pak Budi Purwanto, pemilik Pecel Madiun "BP"
021-70329768

Tuesday, July 7, 2009

0
Pastel daeng dan Tahu Fantasi bersaudara


Orang Bekasi, sejatinya sebagian besar berkomposisi pendatang. Salah satunya, pendatang dari makassar, yang kemudian menyediakan jajanan khas dari bumi Hasanuddin itu. Jelas ini keuntungan buat warga bekasi, karena tidak perlu jauh-jauh melancong ke pulau seberang sekedar menjelajah lidah, cukup di sekitar rumah saja. Bertolak dari bulan puasa tahun 2008 lalu, kala maghrib menjelang dan banyak penghuni kompleks perumahan yang "ngabuburit" sambil berburu penganan berbuka puasa. Tersebutlah pasangan suami istri dan mertua yang asal makassar ini yang menyajikan penganan khas makassar untuk hidangan berbuka puasa. Tak disangka, jejak rasa yang ditinggalkan penganan olahan mereka ini disukai para pembelinya. Pesanan mulai berdatangan, dan peluang ini ditangkap mereka sebagai peluang usaha. Setelah urun rembug, akhirnya mereka berspesialis pada penjualan Pastel ala makassar, yang dikenal di daerah asalnya sebagai ”jalangkote” dengan bandrol baru ”Pastel Daeng” dan Tahu Fantasi.

Pastel Daeng, berkomposisi kentang,wortel, daging ayam, telur ayam dan ubi. Pemilihan tepung dan adonan yang pas, membuat rasa gurih dan garing khas pastel daeng yang lebih kemriuk dari pastel pada umunya. Usut punya usut, hal ini diperoleh dari proses pembuatannya, dimana setelah adonan sudah berbentuk dan berisi, dimasak setengah matang terlebih dahulu. Setelah ditiriskan, pastel daeng disimpan dulu didalam freezer. Ketika dikonsumsi barulah dikeluarkan dari freezer untuk digoreng dengan minyak panas. dan disajikan setelah beberapa menit dengan saus asam manis gurih (seperti kuah pempek Palembang). Teknik ini membuat pastel daeng cukup tahan lama, bahkan pemiliknya mengklaim tahan dan masih layak makan setelah satu bulan. Menurut pengamatan jejaklidah, ukuran pastel daeng ini tidak berbeda dari kebanyakan ukuran pastel di pasaran. Pembuatnya bahkan langsung merekomendasikan cara makan pastel daeng yang benar, yakni dengan membuka sebagian badan pastel, kemudian disiram dengan sambel khusus pastel daeng yang bercitarasa manis, pedas, asam, ditingkah wangi harum bawang putih. .

Tahu Fantasi, sejatinya bukanlah makanan yang baru. Berbagai variasi tehnik pembuatan Tahu Fantasi, seperti namanya, tergantung fantasi pembuatnya. Saudara kandung pastel daeng ini dibuat dengan mencampur bumbu rahasia, cincangan daging ayam, telur, yang kemudian dicampur dengan adonan tahu yang telah diblender. Setelah dibentuk kubus, adonan dikukus dan kemudian didinginkan, untuk selanjutnya siap digoreng dalam minyak panas. Jejaklidah tidak meromendasikan untuk menikmatinya dalam kondisi panas-panas (walaupun ini lebih nikmat), namun sebaiknya didinginkan dulu, dengan menyelipkan cabe rawit dicocol dalam kuah saus Pastel Daeng.

Untuk masalah harga, baik sepotong Tahu Fantasi maupun pastel daeng, dibandrol Rp.2.000,- saja. Untuk pemesanan minimal 10 potong, baik untuk Tahu Fantasi atau Pastel Daeng, dengan Rp. 20.000,- anda sudah bisa berharap pesanan anda diantar sampai ke rumah, asalkan anda berada di wilayah Bekasi Barat. Sementara untuk Jabotabek, dikenakan pesanan minimal 100 potong, dengan biaya pengiriman yang bisa dinegosiasikan. Jajanan Makassar berbau Bekasi ini, dapat dipesan melalui 0815.9037.546, 021.480.2147 atau 021.3275.2286.

0
Pecel Gaya Baru Malam Selatan

Jejaklidah pernah menikmati jelajah lidah dengan melakukan perjalanan keliling Jawa menggunakan kereta api. Bukan kereta api yang eksekutif, namun justru kereta ekonomi yang murah meriah, berikut layanan mobile amatir beragam panganan yang hilir mudik dari gerbong ke gerbong, nyaris di sepanjang perjalanan. Salah satu menu yang sepertinya dapat dijumpai di sepanjang perjalanan adalah pecel. Oh ya, jejaklidah ketika perjalanan dari stasiun senen ini menumpang kereta ekonomi Gaya Baru Malam Selatan, yang bertujuan akhir di Stasiun Pasar Turi Surabaya, di gerbong No 2, bangku nomor 13A.

Ketika kereta meninggalkan senen pukul 11.30, puluhan pedagang asongan hilir mudik menjajakan dagangannya. Namun baru dua jam kemudian, ketika perjalanan menuju cikampek, perut jejaklidah mulai berteriak minta diisi. Pilihan utamanya jatuh kepada ibu-ibu pedagang pecel. Dengan mengusung baskom penuh bahan2 pecel diatas kepala, beberapa ibu nampak menjajakan pecel gaya cikampek ini. Baru ketika dipanggil, baskom diturunkan dan mulailah kecambah, kacang, dan kadang daun pepaya rebus dimasukkan ke pincuk kertas. Selanjutnya, jikalau kita minta lauk, ada bakwan jagung, tahu, tempe, dan terkadang tersedia juga telur. Sentuhan akhirnya adalah siraman sabel kacang cair. Ketika jejaklidah mencicipinya, tidak ada rasa khas dari pecel cikampek ini. Hanya sayur rebus (kulupan bahasa jawanya) yang diberi sambel kacang belaka, tapi cukuplah untuk mengganjal perut.

Lima jam kemudian, ketika kereta sudah akam memasuki cirebon, perut jejaklidah berkeruyuk lagi. Bertekad mencoba pecel lagi, maka diputuskanlah untuk menahan lapar sejenak dengan tidur. Tak dinyana mata jejaklidah baru terbangun pukul 19.30, ketika kereta sudah memasuki stasiun purwokerto. Wah, saatnya mengisi perut yang sempat di alihkan dari lapar, dengan pecel gombong. Sejam kemudian, barulah mbok-mbok, masih dengan baskom dikepala, hilir mudik menjual pecelnya. Jejaklidah memanggil salah satunya. Hmm, segera setelah siraman sambel pecel, kesegaran sambel meruyak penat di rongga mulut. Lidah tak henti hentinya beratraksi mengaduk sayur rebus behen pecel agar semuanya tergilas dan terpotong gigi. Nikmatnya daun turi yang menjadi ciri khas pecel gombong ini membuat air liur terus membasah membuat proses mengunyah semakin nikmat saja. Oh ya, pincuk masih menjadi tempat penyajian pecel gombong ini.

Karena hari semakin merambat malam, perut jejaklidah juga sudah tenang terisi, maka perjalanan merambat dengan mata 3 watt saja. Tak terasa pukul 22.00, kereta masuk stasiun lempuyangan, Yogyakarta. Sontak mata jejaklidah terbuka lebar, karena melihat para mbok2 penjual makanan dalam balutan kebaya warna coklat atau krem (habis malam sih, nggak jelas benar) menjajakan pecel (lagi???) dari luar jendela kereta. Rasanya harus mencoba pecel Jogja nih! Langsung Rp. 3000 Rupiah diangsurkan dan sebungkus nasi pecel diberikan kepada jejaklidah. Dengan bungkus kertas, rasanya kemasan pecel Jogja ini sudah memiliki gaya yang berbeda dari wilayah sebelumnya. Ketika dibuka, nampak nasi, dengan sedikit sayur, sambel pecel dalam kemasan plastik, secuil tempe dan ada seplastik kecil peyek. Rupanya pembeli dipersilahkan untuk meramu sendiri pecelnya. Rasa sambel kacang dengan kencur, rupanya hadir di mulut, walaupun tidak sampai menghangatkan badan, tapi cukup menghangatkan rasa di lidah. Ditambah lagi gurihnya peyek, semakin menambah citarasanya. Memang sih, tidak senikmat pecel di pasar Bringharjo yang pernah dinikmati jejaklidah beberapa bulan sebelumnya, namun cukuplah mewakili Jogjakarta. Oh ya, patut dicatat, pecel bungkus kereta di Jogja ini menyertakan nasi dalam bungkusannya. Tidak seperti adonan pecel di kota-kota sebelumnya.

Perjalanan berlanjut, sampai lepas solo, menjelang tengah malam. Ketika pukul 1 dini hari, jejaklidah mendengar sayup-sayup dari gerbong belakang, suara bariton menjajakan pecel. Wah, lain lagi nih. Ketika suara itu semakin mendekat, jelaslah kiranya, seorang pria tua sedang menjajakan pecel. Bungkusnya unik, karena menggunakan daun pisang, dengan ditusuk lidi di kedua ujungnya. Ketika jejaklidah memutuskan membelinya, maka terasa sekali kehangatan nasi dari balik bungkus daun pisang tersebut. Rupanya inilah pecel bungkus madiun, yang dikenal khas dengan sambelnya. Tapi buat jejaklidah, penggunaan daun pisang menjadi sesuatu yang sangat spesial, karena kemasan ini merupakan bentuk yang paling ramah lingkungan. Ketika dibuka, pola penyusunannya mirip dengan gaya penyajian pecel jogja. Pembeli dipersilahkan menyiapkan sendiri pecelnya sebelum dimakan. Sambel pecel juga dikemas dalam plastik kecil. Ketika masuk ke mulut, jejaklidah merasakan sensasi kencur, daun jeruk yang cukup sedap di sambal pecelnya. Belum lagi tingkah kemriuk peyek kacang yang juga menyertai setiap bungkusnya. Inilah hal yang membedakan pecel wilayah jawa timur dengan jawa barat, penambahan daun jeruk dalam proses pengolahan sambel pecel, menghadirkan aroma segar dan nikmat. Konon, pecel di Madiun dipersiapkan semenjak tengah malam, sehingga tak mengherankan jika jejaklidah menerima pecel dengan naso yang masih hangat. Maklumlah, pecel merupakan menu wajib sarapan bagi sebagian besar warga jawa Timur.

Sampai di Pasar Turi menjelang subuh, jejaklidah bersiap untuk menuju ke penginapan untuk melanjutkan perjalanan ke kota-kota yang lain ketika matahari sudah meninggi, kembali menjelajah lidah. Yang patut dicatat, dalam perjalanan jakarta Surabaya lewat jalur selatan ini, ada 4 jenis pecel yang dijajakan. Semuanya dengan ciri tersendiri, baik dari cara penyajian maupun rasanya. Dari segi harga, nyaris tidak ada perbedaan. Jejaklidah mencatat, untuk semua pecel yang telah dinikmati sepanjang perjalanan, kocek yang dirogoh tak lebih dari Rp. 15.000,-. Secara parsial, setiap menunya berada pada kisaran harga Rp. 3.000 sd Rp. 4.000,- saja. Murah khan?

0
Keripik Setan van Perum 3

Pedas, menurut pustakawan jejaklidah, bukanlah segolongan rasa, tetapi ia merupakan sebuah sensasi yang ditimbulkan oleh zat pedas pada cabai. Hal ini dapat dianalogikan dengan makanan dengan suhu panas atau dingin. Jadi rasa pedas itu bukan terjadi pada salah satu indra khusus pedas di lidah, tetapi semua permukaan lidah dapat mengalami sensasi pedas ini.

Nah, jejaklidah punya saran bagi mereka yang ingin ber eksperimen sendiri dengan makanan pedas, untuk membuktikan kebenaran paparan pustakawan jejaklidah tersebut diatas. Sarannya adalah, cobalah dua bungkus keripik perum3, yang harga per bungkusnya Rp. 500 saja. Mengapa hanya dua bungkus? ” Kalau lebih dari dua bungkus, lidah bisa kebas!” terang pak haji yang ditemui jejaklidah di rumah produksinya di perumnas 3 bekasi. ”Berhenti dulu, lalu 15 menit kemudian boleh nambah lagi dua bungkus!” lanjut pak Haji sambil tersenyum. Jejaklidah manggut-manggut mendengarkan tips cara makan kripik pedas perum3 ini, langsung dari pembuatnya.

Makanan pedas ini dulunya lebih terkenal di kalangan siswa sekolah. Maklum, usaha rumahan dari pensiunan Bea Cukai ini, memang dirintis dari memasok sekolah-sekolah di seputaran Perumnas 3. ”Tak kurang dari 13 sekolah yang menjadi pelanggan tetap kita di awal produksi” kenang Pak haji. Dari merekalah, banyak masukan untuk meningkatkan taraf kepedasan kripik singkong buatan mereka. Jadilah Pak haji meramu 10 kg cabe rawit merah yang mereka beli langsung dari pasar Cikarang, sehingga menjadi 3 ons bumbu kripik pedas saja. Selanjutnya, resep ini menjadi patokan dalam pengolahan rasa pedas sampai saat ini, dan mampu menjadi referensi para penikmat pedas sejati di seputaran Bekasi.

Sementara itu, pustakawan jejaklidah mengajukan teori baru tentang pembagian daerah rasa yang dianggapnya sudah kuno. Menurutnya, berbagai penelitian terbaru menyatakan bahwa sebenarnya semua bagian lidah bisa merasakan semua rasa. Sepertinya informasi ini sejalan dengan strategi pasar yang diambil pak haji dalam memasarkan kripik perum3. Sadar bahwa keripik ini bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, tidak hanya di 13 sekolah tersebut, maka Pak haji menggunakan sistem keagenan. Menunjuk sebuah agen di pasar bekasi, untuk menjadi penerima tetap hasil produksi kripik perum3, sehingga konsumen dapat membelinya dengan lebih mudah di pasar. Mata rantai distribusi yang dipanjangkan, dengan harapan wilayah penjualan semakin meluas. Strategi ini terbukti jitu, karena kripik perum 3 berhasil melakukan penetrasi pasar yang cukup signifikan, menjangkau hampir ke empat penjuru mata angin di kawasan bekasi.

Sampai saat ini, Kripik Perum3 diproduksi dengan menggunakan sistem padat karya. Kripik singkongnya dipesan dari sebuah pabrik produksi kripik singkong goreng, dengan tingkat ketebalan yang telah disepakati. Sementara pembuatan bumbu, masih menjadi hak prerogatif dari Pak haji untuk meramunya, mulai dari pemilihan cabe rawit, pembelian, penjemuran, sampai ke pengolahan sehingga menghasilkan bumbu bubuk. Yang menarik, adalah dalam proses pengemasan. ”Ada lebih kurang 30 rumah tangga di sekitar rumah yang berperan dalam proses pengemasan” terang Pak Haji. Mereka ini adalah para tetangga yang sebelumnya telah diberikan pelatihan, dan kemudian juga mendapat peralatan pengepres dari Pak Haji. Setiap harinya, mereka cukup mengambil plastik, label, satu ball keripik singkong matang, dan bumbu, untuk dibawa ke rumah. Di rumah mereka masing2, proses pengemasan dilakukan, untuk kemudian keesokan harinya, atau setelah semua dikemas rapi dalam plastik, dikembalikan lagi ke rumah pak haji.

Usaha kripik pedas ini pada awalnya merupakan buah kegalauan masa pensiun Pak Haji. Empat putra-putri yang berjauhan dengan masalah masing-masing, sementara Pak Haji sendiri tidak memperoleh pensiun, membuatnya memutar otak lebih cepat. Pesangon dari kantor rupanya lebih dahulu digunakannya untuk menunaikan rukun islam ke lima, selain untuk berdo’a. Di hajar aswad, Pak haji memohon kepada-Nya, untuk diberikan rezeki dari usaha yang jauh berbeda dari pekerjaannya yang terdahulu. Pulang dari tanah suci, kegalauan itu masih belum terjawab. Namun selintas ide untuk membuat makan kecil dalam plastik untuk dijual ke sekolah-sekolah, membersitkan asa untuk mencari jawaban dari permohonannya. ”Rupanya inilah jawaban Nya” ucap pak Haji bersyukur. Dari usahanya ini, kini Pak haji bisa meraup penghasilan bersih 3 juta per minggunya. Kripik pedasnya juga sudah mampu membelikannya sebuah rumah lagi, dan mobil untuk operasional. Saat ini, kripik pedas Perum 3 sedang memasuki masa menunggu untuk terbitnya hak paten dari departemen kehakiman.

Ibarat pohon nyiur, yang semakin tinggi, sapuan angin lebih kencang menerjang, demikianlah lika-liku kripik perum3. Seorang sales kepercayaan pak haji belakangan melarikan diri dan malah memuat sendiri kripik pedasnya, namun tetap dengan label perum3. Belum lagi tetangga yang melihat keberhasilan Pak haji lantas berusaha membuat saingan kripik Perum3. ”Bahkan mereka sampai menyewa koki lho, untuk menyelidiki ramuan bumbu kami” gelak Pak haji. Produksi kripik singkong Perum3 juga menjadi ancaman bagi beberapa produk kripik singkong lain. Malah, sebuah produsen kripik pedas asal bandung, rela melakukan bom pasar produknya, untuk membendung laju ekspansi kripik pedas Perum3. Duh, sampai sebegitunya bisnis pedas ini ya?

Menikmati kripik singkong pedas Perum3, juga ada gayanya. Tapi yang paling membuat Pak Haji terharu adalah ketika di sore hari, tiba-tiba segerombol siswa berseragam sekolah dengan motor, bertandang ke rumah, sekedar membeli kripik barang Rp. 3000,-. ”Ongkos bensin mereka untuk mencapai rumah saya jauh lebih mahal daripada nilai kripik yang sedang mereka beli” tukas pak haji sambil terharu. Sungguh, sebuah fanatisme yang terbentuk gara-gara jejak pedas di lidah yang tak kan pernah bisa lepas dari benak.

Kripik Pedas Perum3
021-8812219

0
Kalau Bebek sudah Kesurupan

Apa saja menu makan siang favorit sebagian besar pegawai pemkot Bekasi? Rasanya tidak ada satupun dari kita yang mengira bahwa rasa pedas merupakan salah satu pilihan rasa yang disukai sebagian besar pamong praja kota Patriot. Kasak-kusuknya, menu yang konon asli dibuat oleh orang Bekasi ini, bisa bikin “kesurupan”, karena saking pedasnya. Maka meluncurlah team jejaklidah ke TKP, menyusuri sepanjang jalur kota lama Bekasi, Jl. Ir. H. Juanda Kota Bekasi (exit tol barat, belok kanan, lurus menuju arah stasiun bekasi) sampai nyaris mendekati terminal Kota Bekasi. One way traffic yang diberlakukan di jalur ini semenjak pukul 06.00 sd. 21.00 WIB, nyata-nyata tidak membuat gerah, karena rerimbunan pohon masih setia memayungi jalan.

Lokasinya cukup mudah dijangkau, karena berada tepat di sebelah bank Bumiputera. Sayangnya, dari banner sign yang dibeber di halaman rumah makan ini, jejaklidah hanya menemukan tulisan Masakan Khas bekasi dalam ukuran cukup mencolok. Semakin dekat, jejaklidah baru bisa membaca "Spesial Bebek Kesurupan", tepat di bawah tulisan masakan khas Betawi. Hmmm, jelajah lidah segera dimulai.

Suasana rumah makan ini memang tidak memunculkan sesuatu yang khas. Malah spanduk sebuah layanan telepon seluler masih menggantung manis di area depan. Deretan bangku plastik dan meja melamin, mengisi ruangan rumah makan dengan nuansa hijau muda ini, tanpa satupun tanda khas, yang mampu menjadi cantolan bagi menu kesurupan. Setelah memesan, akhirnya menu bebek kesurupan hadir di meja. Dari sisi penampilan, sepiring nasi hangat hasil karya magic jare dengan dua potong kecil daging bebek goreng berwarna coklat gelap tersiram bumbu, terhadir. Biasa saja sebenarnya. Sebelumnya semangkuk air juga disediakan, bagi yang menyukai gaya makan dengan tangan. Jejaklidah memulai eksplorasi rasa dengan suapan tangan pertama, dan efeknya langsung terasa. Tehnik mengolah daging bebek yang cukup serius (setidaknya itu yang diketahui Jejaklidah setelah ngobrol dengan pemiliknya) cukup menghasilkan paduan kenikmatan yang menggugah selera. Bumbu pedas cukup menyerap di tiap lapisan dagingnya, sehingga kita tidak perlu mencocol lagi, karena intensitas rasa pedasnya yang diatas rata-rata. Oh ya, lalap mentimun juga tersedia gratis di meja, siap menemani kepedasan kita.

“Tiap kilogram daging bebek, kami memakai setengah kilogram cabe rawit merah!” tutur sang pemilik, Andri Muslimin, membuyarkan puluhan pertanyaan tentang asalmula kepedasan ini. Diseling makan, karyawan salah satu BUMN besar di Bekasi ini, royal membagikan kiat usahanya, yang selama ini banyak diperoleh dari banyak mendengar pelanggan dan kliennya. Dari hasil studi kepustakaan jejaklidah di beberapa situs jajan, misalnya ayojajan.com, bekasi merupakan salah satu sentra utama menu bebek, dengan berbagai macam variasinya. Diakuinya, bebek Rica-rica khas Sulawesi di Pekayon yang seringkali disambangi saat pulang kerja dari kantor atau jalan-jalan dengan keluarga, juga Bebek Pedas Ela di wilayah Pekayon, merupakan sumber inspirasi utamanya. Jikalau Bebek Rica-Rica sudah khas ke-Sulawesiannya dengan pedas dan manis, maka bebek olahannya harus mengusung gimmick baru dengan label kepedasan sederajat namun khas gaya Bekasi.

Usaha Andri mencari gimmick untuk olahan bebek yang mampu mencitrakan masakan khas Bekasi, mengantarkannya kepada nama Bebek Kesurupan. “Idenya dari teman saya!” jujur andri. Alkisah, saat pertama kali dibuka, salah seorang rekan andri yang kebetulan nyaleg dan diajak mampir ke rumah makannya, menceletukan gimmick tersebut setelah menikmati ramuan bebek goreng pedasnya. Andri cekatan menangkap celetukan itu dan menjadikannya gimmick untuk usahanya.

Sayangnya Andri belum optimal menggarap gimmick tersebut. Jejaklidah sendiri, seperti yang telah dipapar di bagian awal tulisan, tidak mendapat suatu penanda khas. Cuma sebuah rumah makan kecil berkapasitas 20-an orang pengunjung, yang menyajikan beberapa menu makan siang standard dengan menu andalan bebek goreng pedas. Suasana rumah makan juga sangat biasa, seperti pada umumnya. Padahal gimmick bebek kesurupan, sudah terasa menggigit, apalagi kalau didukung make up suasana rumah makan yang lebih mendukung, pasti menikmati bebek pedas di rumah makan Andri Muslimin ini akan terasa lebih klop dengan atmosfer rumah makan yang juga “kesurupan”.

Untuk informasi harga, jejaklidah mencatatnya sebagai sangat terjangkau kantong. Bandrol untuk Paket Nasi Rames plus dipasang Rp. 8.000,-, sementara Paket Spesial (Nasi Rames plus lauk pauk spesial) cukup dikisaran Rp. 10.000,- per porsi. Paket Bebek Kesurupan Istimewa, mengharuskan anda merogoh kocek Rp.12.000,- atau Bebek Kesurupan Special, dengan bandrol Rp. 15.000,- saja.
Untuk Delivery kawasan Jabotabek, diberlakukan minimal order 5 paket, ditambah 10% dari nilai total pesanan sebagai biaya pengiriman. Komposisi perpaket Bebek Kesurupan Spesial, terdiri dari Nasi, Timun, Krupuk Udang dan Bebek Kesurupan senilai Rp. 20.000,-. Bagi yang makan di tempat, terdapat pilihan aneka aneka jus seharga Rp. 5.000,- per gelasnya.

Pesan Antar :
021.9318.7374, 021.9822.7422, 021.9619.7371

Monday, July 6, 2009

0
Gudang Informasi Kuliner Mini dalam saku anda

Bagi para pengumpul informasi eksplorasi rasa lidah, Corsair, pabrikan dari negeri paman sam ini telah membuat sebuah media penyimpanan portabel dengan kapasitas terbesar yang pernah ditawarkan saat ini. Voyager, demikian nama media penyimpanan yang mereka pilih, dibuat dengan dua versi, standard dan GT yang diklaim mampu mendongkrak kecepatan 4x lebih cepat daripada FlashDisk USB pada umumnya. Versi standard dilego di pasaran dengan kapasitas 2GB sampai 32GB, sementara versi GT-nya dilepas pada besaran 16GB saja. Tulisan ini hanya akan mengupas Corsair Flash Voyager 32GB saja.

Apa saja yang bisa dilakukan dengan 32GB?
Banyak sekali! Dengan 32GB, kita sama saja memiliki sebuah gudang penyimpanan informasi kuliner mini. Enam judul film DVD yang umumnya memakan 4.7GB, dapat ditampung Voyager dengan mudah, dan masih menyisakan tempat. Coba amati tabel berikut:
Berapa banyak yang bisa saya simpan?
Format 2GB 4GB 8GB 16GB 32GB
Still images: JPEG 6MP 620 1240 2480 4960 9920
Video: MPEG-2 5Mbps-30fps 50 min 1hr 40 min 3hr 20 min 6hr 40 min 13hr 20 min
Video: MPEG-4 384kbps -15fps 9hr 30 min 19hr 38hr 76hr 152hr
Music: MP3 128kbps 500 1000 2000 4000 8000

Pada umumnya flash disk, biasanya kita menemukan bahwa semakin besar kapasitas ternyata memperlambat kinerja. Hal ini disebabkan beban yang bertambah, dan berimbas kepada eskalasi kebutuhan waktu untuk loading dari dan ke media penyimpanan. Voyager diklaim pabrikannya mampu menghilangkan kendala tersebut. Rasanya review produk ini akan lebih valid lagi jikalau disertai dengan uji alat, terutama untuk membuktikan sesumbar corsair akan kehandalan produk ini. Karena saya tidak memiliki akses dan kesempatan seperti misalnya media computer yang biasanya mendapat kiriman produk terbaru dari sebuah perusahaan untuk diuji, maka saya cuma sekilas saja mengulas Corsair Flash Voyager 32GB ini.

Fitur yang dimiliki
• Fungsi Plug & Play diatas platform Windows® Vista, XP, 2000, ME, Linux 2.4 dan seterusnya, Mac OS 9, X dan seterusnya
• Memiliki True Crypt security application (Hanya kompatibel untuk Windows Vista/XP/2000) allowing for a virtual encrypted drive using AES-256 encryption (tidak terdapat di dalam model 2GB)
• Lanyard, kabel USB
• Limited 10-tahun garansi
Corsair Voyager merupakan drive dengan ukuran seperti umumnya, berpelindung karet sintetis yang dimaksudkan sebagai penahan air (water resistant). Visualisasi di situs mereka, menunjukkan drive ini sedang ditenggelamkan dalam air. Hal ini mungkin bukanlah representasi realistik dari sebuah flash drive yang mampu bertahan bukan sebagai anti air (waterproof) tapi cukup tahan air (water resistant). Penutup drive tidak melindungi dari masuknya air, sehingga jikalau anda mempraktekkan seperti yang ada dalam gambar, kemudian menancapkannya (plug)ke port usb, maka dipastikan akan terjadi hubungan arus pendek (korslet). Buat penggila makanan yang malas menulis, sepertinya media penyimpanan yang sebesar ini tidak diperlukan deh. Tapi buat mereka yang suka mengkoleksi informasi, image makanan, artikel kuliner, Peta makanan, maka Flash Disk ini layak dijadikan pilihan, karena siapa tahu, ketika berburu makanan enak, anda harus berjibaku dan ekstra effort mencari jalan sehingga Flash Drive anda terguncang-guncang, maka Corsair yang trah Voyager ini, bakalan aman melindungi data anda.

0
Pada mulanya

Lidah adalah kumpulan otot rangka pada bagian lantai mulut yang dapat membantu pencernaan makanan dengan mengunyah dan menelan. Lidah dikenal sebagai indera pengecap yang banyak memiliki struktur tunas pengecap. Lidah juga turut membantu dalam tindakan bicara. Struktur lainnya yang berhubungan dengan lidah sering disebut lingual, dari bahasa Latin lingua atau glossal dari bahasa Yunani, γλωσσα.

Demikian tulisan awal yang ditemukan ketika mencari definisi dari lidah di Wikipedia. Yang pasti, kuncup-kuncup perasa pada lidah, membantu manusia untuk merasakan "segala yang masuk melalui mulut".

Pada lidah, terdapat indra pengecap yang terdapat kemoreseptor untuk merasakan respon rasa asin, asam, pahit dan rasa manis. Tiap rasa pada zat yang masuk ke dalam rongga mulut akan direspon oleh lidah di tempat yang berbeda-beda. Letak masing-masing rasa berbeda-beda yaitu :

* Rasa manis dapat di rasakan oleh indra pengecap yang terletak di bagian depan lidah
* Rasa Asin dirasakan pada sepanjang bagian isi depan lidah
* Rasa asam di rasakan di sepanjang sisi bagian belakang lidah
* Rasa pahit di kecap pada bagian belakang lidah

Manusia memiliki bermilyar akal dan ide untuk memanjakan lidah, sekaligus mengeksplorasi empat rasa dasar pada lidah, dan menjadikannya sebuah makanan yang sangat beragam. Blog ini, hanyalah salah satu dari ribuan blog yang bertebaran dalam penjelajahan lidah.